CARA MENANAM AREN
DI LAHAN GAMBUT DAN DI LAHAN MINERAL
Edisi revisi 2021.
Oleh : Muhammad Isnaini (Bang Pilot),
KETUA DEWAN PENGAWAS DPP KOMUNITAS AREN INDONESIA.
HP/WA 0813 7000 8997.
MENGENAL LAHAN GAMBUT..
Lahan gambut adalah lahan berupa hasil pelapukan bekas
pepohonan dan hewan, yang pelapukannya belum sempurna. Karena itu lahan gambut
kandungan organiknya sangat tinggi (lebih dari 25%) dan biasanya tanahnya
bersifat masam atau ber-PH rendah; umumnya di bawah 5. Lahan gambut di daerah
pedalaman galibnya phnya lebih rendah dari pada lahan gambut di tepian pantai,
karena di tepian pantai ada intrusi air laut yang bersifat basa (alkali) dan
mengandung mineral- mineral. Lahan gambut tepian pantai pun menjadi lebih subur
karena adanya intrusi air laut tadi, tetapi juga menjadi masalah bagi
pertanaman di sisi yang lain. Yakni
ancaman cekaman salinitas atau kadar garam yang terlalu tinggi.
Berdasarkan kedalamannya, lahan gambut dibagi menjadi 4
kategori, yakni gambut dangkal dengan kedalaman
0,5 sd. 1 meter, gambut sedang antara 1 sd. 2 meter, gambut dalam antara
2 sd 4 meter dan gambut sangat dalam dengan kedalaman lebih dari 4 meter. Di
bawah kedalaman gambut itu biasanya didapati lapisan pasir, bebatuan, tanah
mineral atau bahkan batubara muda.
Berdasarkan warnanya, kita dapat juga membagi karakter lahan
gambut. Gambut yang berwarna lebih tua adalah gambut yang sudah lebih terurai,
sehingga menjadi lebih memungkinkan untuk ditanami. Biasanya lapisan gambut ini
terletak di sebelah atas dengan warna coklat kehitaman. Lapisan bawahnya akan
berwarna lebih muda, coklat tua, coklat muda sampai kekuningan. Gambut yang
berwarna lebih muda adalah gambut yang masih sedikit terurai, meski pun usianya
bisa saja lebih tua. Semakin muda lapisan gambut, biasanya ph-nya semakin
rendah.
Sebagai acuan dasar, aren dapat tumbuh dengan baik pada
lahan ber ph 5,5 sd. 8. Idealnya ada di level 6 sd. 7. Untuk menaikkan ph (derajat
keasaman) satu digit pada lahan 1 ha, maka dibutuhkan 3 ton kapur pertanian
(kaptan) atau dolomit, yang diaplikasikan empat kali. Masing-masing 750 kg
ditabur tipis merata tiap tiga bulan.
Lahan gambut yang dapat ditanami dengan tanaman aren adalah
lahan yang kedalaman gambutnya kurang dari 4 meter dan sebaiknya kedalaman
lapisan atasnya yang berwarna tua lebih dari 40 cm. Jika kedalaman gambut lebih
dari 4 meter, maka biasanya ph gambut itu termasuk sangat asam (kurang dari 4)
dan ada kemungkinan tanaman sulit untuk tumbuh berdiri dengan tegak. Karena itu
tidak jarang kita menemukan tanaman kelapa dan kelapa sawit yang rebah pada
lahan gambut sangat dalam dan setengah rebah pada lahan gambut dalam. Pada
lahan gambut kedalaman sedang, kita akan menemukan tanaman kelapa atau sawit
yang pangkal batangnya membengkok, lalu batang dapat tumbuh dengan tegak karena
akar sudah dapat mencapai lapisan bawah yang lebih stabil.
Untuk ditanami, lahan gambut sebenarnya cukup subur, atau
berpotensi untuk menjadi cukup subur. Masalah utamanya adalah ph yang rendah
dan cekaman air tanah terhadap akar tanaman, karena biasanya air tanah pada
lahan gambut terletak sangat dekat, terutama di sepanjang musim penghujan. Ph
yang rendah dan cekaman air selain membuat bagian akar tanaman sulit menyerap
unsur hara, juga memperbesar potensi serangan jamur akar.
Gambut sendiri dikenal dapat menyimpan air sampai dengan 100
kali berat massa keringnya, sehingga gambut disebut sebagai bank air atau
penyimpan air yang sangat baik.
Di banyak tempat di Indonesia, proses pelapukan gambut itu berlangsung dengan
lambat karena kurangnya pasokan oksigen di kedalaman gambut. Sehingga bakteri
pengurai aerob sulit untuk berkembang biak. Pada lahan gambut yang selalu
terendam air, proses pelapukan menjadi lebih lambat. Aplikasi sistim biopori dengan
penyuntikan larutan bakteri pengurai dapat mempercepat proses pelapukan bahan
organik yang terkandung di lahan gambut.
Untuk ditanami, lahan gambut harus disiapkan dengan baik.
Beberapa perhitungan yang patut untuk dijadikan sebagai pertimbangan adalah
masalah kekeringan gambut di musim kemarau, ancaman kebakaran, ph yang rendah,
kecepatan pertumbuhan gulma, intrusi air asin pada lahan gambut tepian pantai
yang bisa menyebabkan cekaman salinitas (kadar garam) pada akar tanaman,
kesulitan transportasi karena lahan yang masih labil, penurunan ketinggian
lahan gambut, dan sebagainya.
Kita ingin menjadikan lahan gambut sebagai salah satu
penopang kehidupan manusia tanpa harus terlalu banyak mengurangi fungsi gambut
sebagai salah satu stabilisator habitus air dan lingkungan hidup manusia itu
sendiri. Penanganan gambut yang salah
hanya akan menyisakan
kegagalan usaha dan
kerusakan lingkungan hidup.
Karena itulah penulis
berpendapat agar gambut dengan
kedalaman lebih dari 4 meter sebaiknya tetap dijadikan sebagai vegetasi hijau
tanpa eksploitasi ekonomi.
2. PERSIAPAN LAHAN
DAN PENANAMAN
Bertani itu jangan terburu-buru. Semua harus dipersiapkan
dengan baik agar tingkat kegagalan dapat diperkecil. Lebih baik kita membuat
persiapan yang cukup namun berhasil, dari pada harus belajar dari kegagalan.
Karena biasanya kegagalan itu biayanya mahal.-
Teknik persiapan lahan gambut berbeda-beda caranya,
disesuaikan dengan karakteristik lahan gambut itu sendiri.
Sebagai catatan, jarak tanam aren jenis aren genjah secara
monokultur sebaiknya adalah 4x6 meter. Terdapat 416 titik tanam dalam satu
hektar lahan. Untuk aren jenis semi dalam dan aren jenis dalam, jarak tanam
sebaiknya dibuat 3 x 10 meter. Pengaturan jarak tanam ditentukan dengan pemancangan atau pemasangan ajir.
Jarak tanam 4 dan 3 meter membujur Utara-Selatan. Sedangkan jarak tanam yang 6
dan 10 meter dibuat membujur Timur ke Barat. Ada pun jarak tanam untuk sistim
tumpangsari, maka disesuaikan dengan jenis tanaman penumpangsari itu. Jika
tumpangsari dengan serai wangi, pepaya,
jeruk, pisang, nenas, dan lain-lain tanaman rendah, maka jarak tanam dapat dibuat menjadi
3x12 meter. Jarak tanam
aren yang 12
meter itu dibuat membujur
dari Utara ke
Selatan, sehingga sinar matahari dapat dengan leluasa memasuki area
tanaman tumpangsari, dari arah Timur hingga ke Barat. Jarak tanam dalam barisan
sejauh 3 meter tetap dipertahankan dengan pertimbangan kemudahan membuat
jembatan layang antar pohon agar proses penyadapan nantinya dapat dilakukan
dengan lebih mudah dan cepat.
Jembatan layang dibuat
berbahan bambu, sehingga
dianjurkan juga untuk
menanam 20 rumpun
bibit bambu untuk
setiap hektar lahan aren monokultur. Jenis bambu yang baik adalah bambu
wulung hitam, karena jenis bambu ini tidak disukai oleh kumbang bubuk. Hal ini
disebabkan karena kandungan pati pada bambu wulung sangat rendah (kurang dari
3%) dan kandungan silika-nya yang tinggi. Penanaman bibit bambu dilakukan di
sisi Utara atau Selatan lahan agar tidak menghalangi sinar matahari untuk kebun
aren.
Tanaman tumpangsari kemudian ditanam pada lorong selebar 12
meter itu. Jarak tanamnya tentu disesuaikan dengan jenis tanaman penumpangsari.
Untuk kakao dan pepaya, tentu jaraknya 3x3 meter. Jeruk nipis 3x4 meter. Pisang
2x3 meter. Untuk nenas 40 x 60 cm. Serai wangi 1x1 meter. Dan sebagainya.
Ada pun jarak antara tanaman tumpangsari dengan tanaman aren
di kedua sisi diatur sesuai pula dengan jenis tanaman penumpangsari. Yang
menjadi dasar perhitungan adalah umur periodik tanaman penumpangsari dan
kecepatan perkembangan kedua jenis tanaman. Pada tanaman pisang barangan
misalnya, yang memiliki umur periodik satu tahun, dengan lebar tajuk 4 meter,
maka titik tanam terdekatnya dari titik tanam aren pada penanaman perdana adalah
3 meter. Berarti, pada lorong bselebar 12 meter tadi, bisa ditanam pisang
sebanyak 3 baris.
Pada lahan gambut yang sangat dangkal, dengan kedalaman
kurang dari 50 cm, dan biasanya lahan ini tidak dimasukkan ke dalam kategori
lahan gambut, maka cara persiapan lahannya sama dengan cara persiapan lahan non
gambut, yang akan kami uraikan di bawah.
Selanjutnya lakukan pembersihan lahan dari gulma pengganggu.
Lalu gali lubang ukuran minimal 40x40x40 cm, jarak tanam disesuaikan dengan keinginan.
Bubuhi tanah galian dengan 3 kg pupuk organik. Cacah tanah galian agar lebih
melebar lalu semprot dengan larutan EM4 atau larutan bakteri pengurai lainnya
yang sudah dicampur dengan pupuk mikro semisal Gandasil D atau lainnya. Dosis
masing-masing 3 cc/gram perliter air. Tiga hari kemudian taburkan merata 150
gram dolomit pada tanah galian itu. Biarkan selama seminggu. Akan lebih baik
jika ada hujan turun dalam kurun waktu seminggu itu. Lalu masukkan tanah galian
ke dalam lubang sedikit demi sedikit menggunakan cangkul agar tanah tercampur
lebih merata. Buka dan buang polibag bibit. Tanam bibit aren di tengah bagian
atas lubang. Kedalaman
level atas bola
tanah bibit setara
dengan level tanah
lahan. Pemadatan dilakukan sekedarnya agar tanaman
tidak tumbang atau
miring. Lalu taburkan
50 gram pupuk
NPK 16-16-16 di sekitar
piringan. Jaga penaburan agar
pupuk tidak bersentuhan langsung dengan batang tanaman.
Pada lahan yang cenderung kering, kedalaman level tanah
dalam lubang tanam dibuat 6 atau 7 cm lebih rendah dari pada level tanah.
Artinya, dibuatkan lembah tangkapan air atau rorak. Ini berguna untuk tangkapan
air saat dilakukan penyiraman dan pemupukan. Air siraman tidak melebar ke
mana-mana dan pupuk tidak hanyut oleh air hujan.
Pada lahan yang
miring, dibuatkan terasering atau tapal kuda dan rorak juga.
Pada lahan gambut yang sering tergenang air, maka sebaiknya
dibuatkan kanal air primer dan sekunder. Kanal air sekunder berkedalaman 1
meter pada setiap jarak sisi lahan 50 meter, dengan pintu air pengatur pada
kanal primer atau kanal utama.
Penanaman bibit aren dilakukan pada saat awal musim
penghujan atau disesuaikan dengan level air tanah yang tercipta. Artinya,
penanaman dilakukan saat air sudah bisa mulai surut di sebagian besar
lahan.
Jika tidak memungkinkan untuk membuat kanal berpintu air,
maka dibuatkan guludan sesuai dengan jumlah titik tanam. Tinggi guludan minimal
30 cm lebih tinggi daripada ketinggian level air saat puncak genangan. Diameter
puncak guludan 75 cm pada ketinggian guludan 50 cm dan diameter 1 meter pada
ketinggian 75 cm.
Cara membuat guludan
: cangkul tanah
hingga tercipta tumpukan
tanah setebal 20
cm, taburkan merata
pupuk organik, semprot merata
dengan larutan EM4 atau biang bakteri pengurai lainnya, yang sudah dicampur
dengan Gandasil D atau pupuk mikro lainnya, dosis masing-masing 3 cc perliter
air, lalu taburkan dolomit tipis merata. Begitu seterusnya setiap 20 cm hingga
tercapai ketinggian yang diinginkan. Jumlah dolomit keseluruhan untuk tiap
guludan sebanyak 1 kg dan jumlah pupuk organik 5 kg untuk setiap guludan.
Kemudian padatkan bagian
sisi guludan agar
tidak mudah terkikis
air hujan. Pada daerah
yang hujannya cenderung lebat,
baik juga jika guludan ditutup dengan mulsa plastik hitam perak untuk
mengurangi pengikisan tanah oleh air hujan. Ada pun bagian piringan tanam
berdiameter 30 cm tidak ikut ditutupi. Warna perak diletakkan di sebelah atas.
Ini akan berguna untuk membuat
pantulan sinar matahari
juga dapat mencapai
bagian bawah helai daun,
hingga potensi serangan hama di bawah
daun akan menjadi lebih sedikit. Tetapi cara ini akan mengurangi kecepatan
perkembangan bakteri pengurai aerob yang
membutuhkan oksigen. Karenanya,
pembuatan sayatan berbentuk
huruf V ukuran
5 cm pada
sekeliling mulsa dilakukan agar
kedua masalah dapat teratasi dengan cukup baik.
Satu bulan setelah selesai pembuatan guludan, cabutlah
pancangan. Lalu penanaman dilakukan dengan penggalian sedikit di puncak guludan.
Pemadatan dilakukan sekedarnya
agar tanaman tidak
tumbang atau miring.
Kemudian taburkan 50
gram pupuk NPK di sekitar piringan.
Setelah selesai penanaman,
semprotlah seluruh bagian
tanaman dan piringan
tanaman dengan larutan
fungisida hayati trichoderma atau
gliocladium. Bisa yang
bermerk Saco-p, SuperTrico,
SuperGlio atau yang
lainnya. Dosis lihat
kemasan. Ini untuk mencegah
berjangkitnya penyakit karat
daun, hawar daun, bercak
daun dan busuk
akar akibat jamur
patogen. Penyemprotan fungisida hayati selanjutnya setiap satu bulan
sekali. Bisa juga dengan menggunakan fungisida kimia sistemik. Misalnya merk
Benlate, Bendas, Bayleton, Benlok, dll.
Campurkan juga perekat agar larutan fungisida tidak cepat tercuci air
hujan. Semua dapat dibeli di toko pertanian.
Pada lahan gambut kedalaman sedang dan pada gambut dalam,
cara melakukan penanaman sama dengan cara di atas, hanya saja tentu dengan
memperhatikan genangan air pada lahan. Genangan air diatasi dengan cara membuat
kanal berpintu air, atau dengan cara membuat guludan. Aplikasi biopori dengan
penyuntikan larutan bakteri pengurai cukup dianjurkan pada kedua jenis lahan
ini. Larutan EM4 atau sejenis dengan dosis 3 cc per liter air disuntikkan
setiap 6 bulan sebanyak 4 kali. Ada pun jumlah lubang sebaiknya 4 buah per
pohon tanaman, yang letaknya di sekeliling piringan terluar tanaman.
Peringatan-peringatan
akan bahaya kebakaran
lahan gambut juga
dipasang di sekitar
lokasi penanaman aren.
Hal ini diharapkan akan
mengurangi terjadinya kebakaran lahan gambut di musim kering akibat kecerobohan
manusia.
Selanjutnya adalah pengendalian gulma di lahan. Minimal
piringan tanam harus bersih dari gulma.
Bagian lahan yang
masih terbuka dapat
ditanami dengan serai
wangi atau rumput
gajah. Serai wangi
merupakan bahan produksi minyak
atsiri yang cukup baik harganya. Rumput gajah merupakan sumber pakan hewan
ternak ruminansia yang baik. Sedangkan kotoran dan urin hewan ternak itu dapat
dipakai sebagai sumber pupuk organik bagi kebun aren.
Dapat juga dilakukan penanaman nenas madu, yang pangsa
pasarnya lumayan baik.
3. PEMILIHAN BIBIT AREN..
Bibit aren yang
akan ditanam haruslah
bibit yang baik.
Biji untuk bibitnya berasal dari
indukan terpilih. Sejarah
penyadapannya bagus. Tandan
buahnya tidak lebih dari 5 tandan. Dan berasal dari jenis aren yang cepat
berproduksi. Jika kriteria itu terpenuhi, maka bisalah dibuat bibit sendiri.
Tetapi jika sulit mendapatkannya, maka bisa dilakukan pembelian bibit kepada
penangkar yang terpercaya.
Cara terbaik mendapatkan bibit aren yang sesuai dengan lahan
gambut adalah dengan membeli bibit aren yang masih berumur 4 sd. 5 bulan dan
berdaun dua atau tiga helai. Bibit seperti ini biasanya harganya masih murah,
pengangkutannya mudah, polibagnya masih kecil, tingkat kehidupannya sudah baik
dan masih dapat dilakukan proses adaptasi dan aklimatisasi di lahan bakal kebun
aren atau di daerah sekitarnya yang beriklim sama. Pembesaran, adaptasi dan
aklimatisasi dilakukan karena asal bibit yang lain daerah dan biasanya bibit
aren dibuat orang di bawah paranet dan di dalam sungkup plastik. Bibit yang
berasal dari area teduh jika langsung ditanam akan mengalami shock cuaca dan
sering stres bahkan mati.
Salin polibag bibit yang dibeli dengan polibag berukuran
18x25 cm. Tanah tambahan pengisi polibag
adalah tanah gambut jua. Ini akan membiasakan
bibit beradaptasi dengan
gambut. Bagian teratas
polibag diisi dengan
abu janjang sawit
atau arang sekam setebal 3 cm. .
Ini akan sangat membantu mengurangi serangan jamur daun. Bahan penggantinya
adalah tanah kapur jika abu janjang atau sekam bakar tidak didapat.
Susun bibit di tempat yang terkena panas.Untuk 100 batang
bibit akan membutuhkan tempat sekitar 1,5 meter persegi. Jadi dalam lokasi
berukuran 1,5 x 10 meter akan muat untuk 1.000 batang bibit aren. Siram bibit setiap sore. Lakukan pengendalian
hama dan penyakit. Biasanya yang menyerang hanya penyakit bercak daun, karat
daun dan hawar daun. Pencegahan dengan fungisida hayati dan pengendalian dengan
fungisida kimia sistemik. Penyemprotan dilakukan setiap
1 bulan. Jika
ada serangan, pisahkan
bibit yang terkena, potong dan buang daun yang sudah
terkena serangan yang parah. Lakukan penyemprotan fungisida terhadap bibit yang
sakit itu dengan interval 7 hari. Jangan lupa menambahkan perekat.

Pemupukan bibit dilakukan
dengan menyemprotkan larutan
pupuk cair semisal
Bayfolan atau sejenis
setiap bulan. Dosis maksimal 2 cc perliter air. Baik juga
jika dicampur dengan agen biohayati semisal pupuk Jimi Hantu atau lainnya.
Tidak boleh mencampur pupuk dengan fungisida dan/atau perekat. Interval antara
pemupukan dan aplikasi fungisida adalah 3 hari.
Cara pemupukan lain yang lebih baik adalah dengan melarutkan
100 gram pupuk NPK ke dalam 10 liter air, dan disiramkan kepada 100 polibag bibit.
Lakukan setiap 30 hari.
Jika dirasa repot mengurus bibit, maka bisa membeli bibit
aren siap tanam. Tetapi tentu harganya lebih besar dari pada harga bibit yang
masih kecil. Seorang penangkar bibit di desa Petatal yang bernama Bang Pilot,
misalnya, beiau menjual bibit aren siap tanam umur setahun seharga rp.12.000.
Tinggi bibit itu sekitar 70-80 cm.
Jika menggunakan bibit yang berumur lebih dari setahun, sedangkan
polibagnya tetolong kecil, maka sebaiknya semua daunnya dipotong, kecuali
pupusnya. Jika tidak, maka besar kemungkinan akan terjadi dehidrasi akibat daun
yang sudah banyak sementara akarnya belum membumi.
Jika bibit aren
dibeli yang siap tanam, maka lakukan aklimatisasi sebagai berikut. Setelah
lahan dibersihkan dan belum dibuat lubang tanam, maka letakkan bibit bersusun
di dekat lahan atau di daerah sekitar lahan. Siram secukupnya setiap sore hari.
Semprot dengan fungisida jika bibit terlihat mengalami serangan bercak daun.
Begitu selama 10 hari atau sampai lubang tanam siap untuk penanaman. Bibit akan
mulai terbiasa dengan iklim sekitar.
Menanam bibit tanpa proses aklimatisasi sering menyebabkan
tingkat kematian yang tinggi pada tanaman aren.
Pemupukan.
Pemupukan selanjutnya, umur 0 sd. 3 tahun adalah dengan 6 kg
pupuk organik dan 250 gram pupuk NPK 16-16-16 perpohon. Aplikasi dilakukan tiap
4 bulan. Pupuk NPK ditaburkan merata di sekitar perakaran dalam piringan,
sedangkan pupuk organik ditumpuk menjadi dua bagian di dalam piringan.
Aplikasi
penyemprotan piringan lahan
dengan EM4 atau yang
sejenis setiap 4
bulan. Baik juga
jika dilakukan setelah
aplikasi pemupukan. Karena bakteri pengurai juga akan membantu
menguraikan pupuk NPK dan pupuk organik sehingga menjadi lebih matang dan mudah
diserap oleh bulu akar tanaman.
Aplikasi 500 gram dolomit setiap 6 bulan dengan interval
antara pemupukan selama 2 bulan. Dolomit
kurang baik diberikan secara
bersamaan dengan pupuk
karena dolomit dapat
mengikat unsur N
dan unsur P
sehingga tanaman sulit
untuk menyerapnya.
Pemupukan
selanjutnya, untuk tanaman umur 3
sd. 6 tahun
adalah dengan 10
kg pupuk organik
dan 350 gram
pupuk NPK.. Aplikasi dilakukan tiap 4 bulan. Pupuk NPK
ditaburkan merata di sekitar perakaran dalam piringan, sedangkan pupuk organik
ditumpuk menjadi dua bagian di dalam piringan.
Aplikasi dolomit dan bakteri pengurai biasanya sudah kurang
dibutuhkan.
Pemupukan pada masa produksi dengan pupuk urea 500 gram, TSP
500 gram, KCL 350 gram, 10 gram pupuk borate dan 10 gram pupuk MgO per pohon
per 4 bulan.
Pemupukan secara organik alami dapat juga dilakukan dengan
hanya menggunakan pupuk kandang yang berasal dari kotoran dan urin kambing yang
sudah matang difermentasi. Pemupukan dilakukan setiap 6 belan dengan jumlah
pupuk satu kali aplikasi adalah umur tanaman dikali 3 kg. Jadi, untuk tanaman
aren umur 4 tahun misalnya, diberikan pukan matang kering sebanyak 12 kg setiap
6 bulan.
PENGENDALIAN GULMA..
Pengendalian gulma dalam piringan dilakukan secara manual,
dengan cara dikoret atau digaruk. Ada pun untuk
gulma di luar piringan dapat dilakukan aplikasi herbisida kontak semisal
Herbatop, Paratop, Gramoxone, dll. Aplikasi dilakukan sesuai dengan pertumbuhan
gulma.
PENGENDALIAN PENYAKITPenyakit yang biasanya menyerang tanaman aren tidaklah
sebanyak yang menyerang tanaman sawit. Jika ada gejala serangan bercak daun,
hawar daun atau karat daun, dapat
dikendalikan dengan aplikasi fungisida hayati mau pun fungisida kimia seperti
yang telah dijelaskan di atas. Penyemprotan sebaiknya dilakukan dari arah bawah
daun juga. Agar penyucian zat aktif oleh air hujan dapat berkurang. Aplikasi pengocoran bubur bordo mungkin
dibutuhkan jika ditemukan gejala busuk akar, yang ditandai membusuknya akar
yang ada di dekat pangkal batang.
Contoh merk fungisida.
Contoh merk perekat.
PENGENDALIAN HAMA.
Secara umum, hama tanaman aren sama jenisnya dengan hama
pada tanaman kelapa sawit. Yakni tikus, babi hutan, landak, monyet dan kumbang
tanduk. Serangan tikus, babi dan landak dapat diatasi dengan pembersihan lahan,
pemagaran individu dengan kaleng atau jala bekas, pemagaran kebun dengan seng
bekas, pembuatan parit, aplikasi racun hama seperti klerat dan thimex,
dll. Untuk kumbang
tanduk yang biasanya
menyerang mulai umur
2 tahun sd.
umur 4 tahun,
maka bisa dilakukan
pembuatan perangkap feromon, aplikasi karbofuran seperti merk Curater,
Marshal, Furadan dll di pucuk dan pelepah, dengan penaburan 10 gram di pucuk
dan 10 gram di perakaran. Bisa juga dengan membuat perangkap jaring berlampu.
Jaring ikan benang halus mata 3/4 dipasang di ketinggian 2 sd. 3 meter dengan 4
buah tonggak kayu berbentuk petak ukuran 2x2x2 meter, jaringnya dipasang 2
lapis, lalu diletakkan lampu neon hemat energi
biasa di tengahnya pada malam hari. Kumbang akan tertarik mendekat lalu
terjerat oleh jaring. Lampu bisa menggunakan lampu rechargerable atau lampu led
taman tenaga surya portable yang otomatis hidup bila hari sudah gelap dan mati
bila hari sudah terang. Jenis lampu ini sudah banyak dijual secara online. Harganya berkisar Rp.40.000/unit. Lampu harus
menggunakan pelindung hujan. Satu ha membutuhkan 4 titik perangkap di tengah
kebun aren. Cara ini cukup efektif dan bebas racun. Pemasangan perangkap jaring
lampu ini biasanya dilakukan mulai umur tanaman aren 2 sd. 4 tahun. Atau mulai
ditemukannya serangan kumbang badak penggerek itu hingga dianggap sudah
aman.
Di antara semua hama, hama monyet termasuk yang agak sulit
diatasi. Namun teman-teman petani tidaklah kurang akal. Di antaranya mereka
menggunakan mercon terbang untuk menakut-nakuti gerombolan monyet. Dan cara
lain yang dianggap paling baik.
PEMBERSIHAN IJUK.
Pada umur 5
tahun untuk aren
genjah dan umur
6 tahun untuk
aren dalam, maka
dilakukan pembersihan ijuk.
Biasanya pembersihan dilakukan oleh pembeli ijuk. Petani hanya tinggal
menimbang dan menerima uang hasil penjualan ijuk itu. Hargta ijuk tidaklah mahal, hanya beberapa
ribu rupiah saja per kilogramnya. Ijuk dipakai untuk sapu, penyaring air, atap
rumah adat, dan pada kualitas terbaik dipakai untuk pengisi jok mobil
mewah. Pembersihan ijuk turut akan memacu
keluarnya tandan buah dan tandan sadap pada pohon aren.
PENYADAPAN.
Bagaimana proses penyadapan
sebaiknya dipelajari secara
praktek. Karena jika
hanya teori saja
tidak akan bisa
berhasil. Komunitas Aren Indonesia sedang berusaha membuka 8 pusat
pelatihan bagi calon penyadap. Di Kaltim, Sulsel, Jateng, NTB, Riau, Bengkulu
dan 2 unit di Sumut. Pelatihan dilakukan selama 1 bulan dengan sistim training
on trainer. Sehingga peserta yang sudah lulus akan dapat
menjadi penyadap aren
sekaligus sebagai pelatih
di daerahnya. Pelatihan
juga menyediakan paket
latihan cara memasak nira menjadi
gula aren dan cara membuat gula semut.
CARA MENANAM AREN DI LAHAN MINERAL/NON GAMBUT.
NB : Jarak tanam 3 x 10 meter lebih dianjurkan.
Aplikasi dolomit cukup 500 kg per ha per 5 tahun, jika ph
tanah sudah mendekati normal.
Asalkan tidak kebanjiran sampai daun tanaman ikut terendam,
tanaman aren akan baik-baik saja. Namun pertumbuhan cenderung melambat. Karena itu, saluran
irigasi dibutuhkan pada lahan rawa/basah.
Aplikasi pupuk secara dibenamkan itu jauh lebih baik dari
pada aplikasi pupuk secara tabur.
Demikianlah buku petunjuk budidaya aren ini kami susun. Jika
ada yang kurang jelas, silahkan konsultasi gratis di chat Whatsapp nomor
hp.0813 7000 8997. Sumbang saran membangun pasti dibutuhkan demi perbaikan buku
ini di masa depan.
Sekian dan terima kasih.
Untuk teknik penanaman bibit aren di lahan kering mineral, bisa disaksikan di tayangan video yg kami unggah di
https://youtu.be/sSBRKTuV5wM
Bagi yang membutuhkan bibit aren, baik jenis aren genjah mau pun aren dalam, bisa menghubungi penulis di Hp/Wa 0813 7000 8997 .
.
Trims. Wasalam. Salam sukses petani aren Indonesia!
Merdeka!!